ANALISIS MAKNA HISTORIS DAN SIMBOLIK TUMBA ANA’A SEBAGAI PENINGGALAN MEGALITIK DI DESA ONONAMOLO I LOT, KECAMATAN GUNUNGSITOLI SELATAN, KOTA GUNUNGSITOLI
DOI:
https://doi.org/10.51878/social.v6i4.15637Keywords:
Analisis, Historis dan Simbolik, Tumba ana’a, MegalitikAbstract
This study was motivated by the declining understanding of the historical and symbolic meanings of Tumba ana’a as a megalithic heritage site in Ononamolo I Lot Village. This condition is influenced by the weakening transmission of oral traditions, limited documentation, and insufficient information about the cultural values of the site. The study aimed to analyze the historical and symbolic meanings of Tumba ana’a based on the perspectives of the local community. A descriptive qualitative approach was employed involving five informants consisting of community leaders, a village official, and local residents. Data were collected through observation, semi-structured interviews, and documentation, then analyzed through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Data validity was established through source and technique triangulation. The findings indicate that historically, Tumba ana’a represents a Balugu figure from the Zebua clan associated with owasa and the enforcement of fondrakö. Symbolically, the site represents genealogical identity, social status, leadership, honor, and spiritual values. The shift in its meaning toward being viewed merely as an old stone reflects weakened oral transmission and cultural documentation. These findings highlight the importance of preserving both the physical site and its cultural meanings through documentation and intergenerational transmission.
ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh menurunnya pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap makna historis dan simbolik Tumba ana’a sebagai peninggalan megalitik di Desa Ononamolo I Lot. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh melemahnya pewarisan tradisi lisan, minimnya dokumentasi, dan terbatasnya informasi mengenai nilai budaya situs. Penelitian ini bertujuan menganalisis makna historis dan simbolik Tumba ana’a berdasarkan pemaknaan masyarakat setempat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan lima informan yang terdiri atas tokoh masyarakat, aparat desa, dan warga setempat. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dengan keabsahan data melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara historis Tumba ana’a merepresentasikan figur Balugu dari marga Zebua yang berkaitan dengan owasa dan penegakan fondrakö. Secara simbolik, situs ini merepresentasikan identitas genealogis, status sosial, kepemimpinan, kehormatan, dan nilai spiritual. Pergeseran pemaknaan menjadi sekadar batu peninggalan menunjukkan melemahnya pewarisan tradisi lisan dan dokumentasi budaya. Temuan ini menegaskan pentingnya pelestarian fisik dan pemaknaan budaya melalui dokumentasi serta pewarisan antargenerasi.
Downloads
References
Alghifari, N. N., Bawono, R. A., & Setiawan, I. K. (2022). Tinggalan tradisi megalitik Situs Watugong, Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang: Kajian bentuk, fungsi, dan makna. Kalpataru, 31(2), 64–70. https://doi.org/10.55981/kpt.2022.1663
Astuti, A. Y., & Tafonao, S. (2023). Linguistic signs on megalithic stone meaning in Gomo South Nias District. Jurnal Ilmiah Langue and Parole, 7(1), 95–104. https://doi.org/10.36057/jilp.v7i1.631
Hasugian, J. H. (2025). Eksplorasi asal usul dan makna simbolik situs megalitik Batu Gajah di Dolok Panribuan Simalungun Sumatera Utara dari perspektif tradisi lisan. Puteri Hijau: Jurnal Pendidikan Sejarah, 10(1), 109–118. https://doi.org/10.24114/ph.v10i1.64674
Irfaniah, H. (2023). Community archives' role in safeguarding intangible cultural heritage. Jurnal Kajian Informasi & Perpustakaan, 11(2), 257–268. https://doi.org/10.24198/jkip.v11i2.49638
Ismail, S., Abubakar, B., Hasbullah, & Aiyub, A. (2020). Nandong: Tradisi lisan Simeulue. Indonesian Journal of Islamic History and Culture, 1(1), 1–20. https://doi.org/10.22373/ijihc.v1i1.508
Lumban Gaol, A. T. B. B., Sibarani, R., & Sinulingga, J. (2022). Rekonstruksi cerita rakyat geosite Geopark Toba Humbang Hasundutan Tapanuli Utara: Kajian tradisi lisan. Jurnal Basataka (JBT), 5(2), 220–230. https://doi.org/10.36277/basataka.v5i2.183
Mahdi, M., Azmi, U., Sirajuddin, & Novera, Y. (2025). Pengdokumentasian situs megalitik sebagai warisan budaya rawan punah di Kabupaten Nias Barat–Sumatera Utara. CARITA: Jurnal Sejarah dan Budaya, 4(1), 31–60. https://doi.org/10.35905/carita.v4i1.15070
Mangentang, M. (2024). Transformasi makna kematian dalam kepercayaan suku Nias: Antara warisan budaya dan konteks kekristenan. Manna Rafflesia, 11(1), 168–185. https://doi.org/10.38091/man_raf.v11i1.499
Mansur, M., & Ode Mulae, S. (2025). Analisis konsep historiografi tradisonal pada beberapa tradisi lisan masyarakat Ternate. Tekstual, 23(1), 14–32. https://ejournal.unkhair.ac.id/index.php/tekstual/article/view/9780
Nasruddin, & Intan, M. F. S. (2018). Omo Hada: Arsitektur tradisional Nias Selatan di ambang kepunahan. KALPATARU, 27(2), 105–116. https://ejournal.brin.go.id/kalpataru/article/view/2675
Piliang, W. S. H., Mukhlis, M., Roziah, R., & Firmansyah, F. (2026). Revitalisasi tradisi lisan Pekanbaru melalui model Telusur Kultur. GERAM, 14(3), 566–577. https://doi.org/10.25299/geram.2026.30082
Rosmawati, R. (2021). Potensi tradisi budaya megalitik di Tana Toraja sebagai objek wisata. Jurnal Ilmu Budaya, 9(2). https://doi.org/10.34050/jib.v9i2.18359
Rosmawati, Duli, A., Nur, M., Yusriana, Saraka, E. M. U., Muda, K. T., Chia, S., Sabin, Y. S., Ramli, Z., Bulbeck, F. D., & Brumm, A. (2022). The function and meaning of megalithic cultural heritage in some sites in Bantaeng Regency, South Sulawesi. Mozaik Humaniora, 22(1), 114–128. https://doi.org/10.20473/mozaik.v22i1.32402
Sukendar, H. (2024). Description on the megalithic tradition of Indonesia. Berkala Arkeologi, 8(1), 1–30. https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/documents/detail/1220822
Susetyo, B., Lagut, Dwinanda, K., & Wahayuni, M. (2025). Manik-manik prasejarah pada arca megalitik Tinggihari sebagai media edukasi sejarah lokal. Kajang: Jurnal Teknopedagogi Nusantara, 1(1), 10–27. https://doi.org/10.67200/kajang.v1i1.2
Sutaba, I. M. (2020). Makna simbolik arca nenek moyang dalam masyarakat Bali. Jurnal Kebudayaan, 15(2), 89–104. https://ejournal.brin.go.id/panalungtik/article/view/81
Turner, V. (1967). The forest of symbols: Aspects of Ndembu ritual. Cornell University Press.
Wibowo, B. A. (2022). Eksistensi tradisi lisan sebagai sumber sejarah lokal. Estoria: Journal of Social Science and Humanities, 3(1), 383–397. https://doi.org/10.30998/je.v3i1.1178
Wijaya, T., Alauwiyah, F., Saputra, D. J., & Wargadalem, F. R. (2025). Eksplorasi arkeologis situs megalit Tanjung Aro dan Tegur Wangi di Pagaralam: Warisan budaya masa prasejarah di Sumatera Selatan. Titian: Jurnal Ilmu Humaniora, 9(1), 1–12. https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/documents/detail/5150521
Wiradnyana, K. (2020). Eksistensi leluhur dalam kehidupan masyarakat Nias. Berkala Arkeologi Sangkhakala, 23(2), 83–92. https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/journal/view/10223
Zaluchu, S. E. (2023). A Fondrakö text: Cultural religious tradition and social integration of community. F1000Research, 12, 41. https://doi.org/10.12688/f1000research.127772.1
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.















