PENGGUNAAN METHYLENE BLUE SEBAGAI PENGGANTI HEMATOKSILIN PADA SEDIAAN HISTOLOGI

Authors

  • Naysilla Wardaniya Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Surabaya
  • Juliana Christyaningsih Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Surabaya
  • Lully Hanni Endarini Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Surabaya
  • Anita Dwi Anggraini Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Surabaya

DOI:

https://doi.org/10.51878/healthy.v5i4.14653

Keywords:

hematoksilin, methylene blue, pewarnaan

Abstract

Histological staining plays an essential role in enhancing the visualization of cellular and tissue structures. Hematoxylin, the nuclear stain used in the Hematoxylin–Eosin (HE) method, has several limitations, including relatively high cost and limited storage stability, necessitating the development of more economical alternatives such as methylene blue. This laboratory experimental study aimed to evaluate the use of methylene blue as a substitute for hematoxylin in mouse liver histological sections. The control group was stained using the Hematoxylin–Eosin method, while the treatment groups received methylene blue at concentrations of 10%, 11%, and 13%. Slide quality was evaluated microscopically using a scoring method based on nuclear clarity, cytoplasmic appearance, and color uniformity, followed by Kruskal–Wallis and Mann–Whitney analyses. The control group produced 100% good-quality slides. The 10% methylene blue group yielded 16.7% good and 83.3% fairly good slides. The 11% concentration produced 83.3% fairly good and 16.7% poor slides, whereas the 13% concentration resulted in 66.6% fairly good and 33.3% poor slides. The Kruskal–Wallis test revealed a significant difference among the groups (p=0.000; p<0.05). These findings indicate that methylene blue, particularly at a concentration of 10%, has potential as an alternative nuclear stain to hematoxylin because it produced the best staining quality among the treatment groups.

ABSTRAK

Pewarnaan sediaan histologi berperan penting dalam memperjelas struktur sel dan jaringan. Hematoksilin sebagai pewarna inti pada metode Hematoksilin-Eosin (HE) memiliki keterbatasan, antara lain harga yang relatif mahal dan stabilitas penyimpanan yang kurang baik, sehingga diperlukan alternatif pewarna yang lebih ekonomis, seperti methylene blue. Penelitian ini bertujuan mengetahui penggunaan methylene blue sebagai pengganti hematoksilin pada sediaan histologi jaringan hati mencit. Penelitian menggunakan desain eksperimental laboratorium dengan kelompok kontrol pewarnaan Hematoksilin-Eosin dan kelompok perlakuan methylene blue konsentrasi 10%, 11%, dan 13%. Kualitas preparat dinilai secara mikroskopis menggunakan metode skoring berdasarkan kejelasan inti sel, sitoplasma, dan keseragaman warna, kemudian dianalisis menggunakan uji Kruskal–Wallis dan Mann–Whitney. Hasil menunjukkan kelompok kontrol menghasilkan 100% preparat berkategori baik. Pada methylene blue 10% diperoleh 16,7% preparat berkategori baik dan 83,3% cukup baik, konsentrasi 11% menghasilkan 83,3% cukup baik dan 16,7% tidak baik, sedangkan konsentrasi 13% menghasilkan 66,6% cukup baik dan 33,3% tidak baik. Uji Kruskal–Wallis menunjukkan perbedaan yang signifikan antar kelompok (p=0,000; p<0,05). Dengan demikian, methylene blue berpotensi digunakan sebagai pewarna alternatif pengganti hematoksilin, terutama pada konsentrasi 10% yang menghasilkan kualitas preparat terbaik di antara kelompok perlakuan.

References

Adiningsih, R., Rahmawati, Y., & Nailufar, Y. (2024). Potensi ekstrak bunga telang (Clitoria ternatea L.) sebagai pengganti cat hematoksilin dalam pewarnaan rutin jaringan. Jurnal Kesehatan Tambusai, 5(4). https://doi.org/10.31004/jkt.v5i4.35535

Amelia, R., & Baiturrahmah, U. (2020). Buku ajar histologi. Universitas Baiturrahmah Padang.

Annisa, A. S., Sofyanita, E. N., Kuncara, R. B., & Surati. (2023). Pengaruh penggunaan minyak zaitun dengan pemanasan sebagai larutan penjernih (clearing) terhadap kualitas sediaan jaringan hepar mencit (Mus musculus). Jurnal Labora Medika, 7(1), 6–12. https://doi.org/10.26714/jlabmed.7.1.2023.6-12

Atha, A. N., Susanti, E. D., Nur Fitria, A. Z., Pasha, E. I., Sari, E. T., Fadilla, N. A. F., Iskandar, D. V., & Arini, L. D. D. (2025). Efektivitas penggunaan pewarna metilen blue dalam pengamatan bentuk sel pada kulit katak. Nian Tana Sikka: Jurnal Ilmiah Mahasiswa, 3(4), 60–65. https://doi.org/10.59603/niantanasikka.v3i4.928

Badjuri, F. Z., Durachim, A., Wiryanti, W., Riyani, A., & Dani, M. (2023). Pengaruh variasi suhu dan waktu virgin coconut oil pada proses deparafinisasi pewarnaan hematoksilin eosin terhadap kualitas preparat. Jurnal Kesehatan Siliwangi, 4(1), 172–181. https://doi.org/10.34011/jks.v4i1.1473

Charisma, A. M., Permatasari, M. I., & Negara, Y. A. K. (2025). Effectiveness of using methylene blue dyes in Papanicolaou staining in cytology of ascites fluid. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan, 175–181. https://doi.org/10.32668/jitek.v12i2.1803

Duda, A. P. A., Rahmawati, Y., & Nailufar, Y. (2025). Perbandingan kualitas blok parafin jaringan apendiks pada pewarnaan hematoksilin eosin berdasarkan lama penyimpanan. Borneo Journal of Medical Laboratory Technology, 8(1), 888–895. https://doi.org/10.33084/bjmlt.v8i1.10412

Elen, M. R. (2022). Microscopic quality profile of mice liver (Mus musculus) with 2 µm, 5 µm and 8 µm thickness sections. Jaringan Laboratorium Medis, 4(2), 71–78. https://doi.org/10.31983/jlm.v4i2.8483

Hidayat, M. S., & Dewi, Y. R. (2024). Perbedaan hasil pewarnaan hematoxylin-eosin preparat limfonodi pada proses clearing menggunakan xylol dan minyak zaitun. Plenary Health: Jurnal Kesehatan Paripurna, 297–301. https://publikasi.abidan.org/index.php/plenary-health/article/view/562

Khan, I., Saeed, K., Zekker, I., Zhang, B., Hendi, A. H., Ahmad, A., Ahmad, S., Zada, N., Ahmad, H., Shah, L. A., Shah, T., & Khan, I. (2022). Review on methylene blue: Its properties, uses, toxicity and photodegradation. Water, 14(2), 242. https://doi.org/10.3390/w14020242

Lorsuwannarat, N., Kaewsanit, A., Charoenpitakchai, M., Ruangpratheep, C., Arnutti, P., & Nimmanon, T. (2024). Optimizing re-staining techniques for the restoration of faded hematoxylin and eosin-stained histopathology slides: A comparative study. https://doi.org/10.1369/00221554241299861

Muthiawati, S., Wiryanti, W., Durachim, A., & Sundara, Y. (2023). Optimasi waktu dan suhu fiksasi spesimen terhadap kualitas preparat jaringan. Jurnal Kesehatan Siliwangi, 4(1), 479–484. https://doi.org/10.34011/jks.v4i1.1508

Nazhiifah, T. S., & Sofyanita, E. N. (2023). Perbedaan hasil pewarnaan Hematoxylin Eosin (HE) pada histologi kulit mencit (Mus musculus) berdasarkan ketebalan pemotongan 3 ?m, 6 ?m dan 9 ?m. Borneo Journal of Medical Laboratory Technology, 6(1), 474–480. https://doi.org/10.33084/bjmlt.v6i1.6090

Putri, G. S. A., Diyanah, D., & Iswara, A. (2024). The effectiveness of ylang ylang oil (Cananga odorata) as a deparaffinizing agent in hematoxylin-eosin staining. Jaringan Laboratorium Medis, 6(1), 1–8. https://doi.org/10.31983/jlm.v6i1.10824

Putri, N. A., Khristian, E., & Durachim, A. (2023). Tinjauan pewarnaan hemaktosilin-eosin dan periodic acid-schiff terhadap kerusakan hati mencit yang diinduksi aloksan. Borneo Journal of Medical Laboratory Technology, 5(2), 296–302. https://doi.org/10.33084/bjmlt.v5i2.5101

Rahmawati, F., Purwaning Sari, K., Huda, N., & Rousdy, D. W. (2023). Ekstrak biji kesumba keling (Bixa orellana L.) sebagai pewarna alami sediaan jaringan ikan nila (Oreochromis niloticus). Jurnal Bios Logos, 13(3), 233–242. https://doi.org/10.35799/jbl.v13i3.51905

Rihanesa Diana Putri, & Eko Naning Sofyanita. (2023). Perbedaan hasil pewarnaan hematoxylin eosin (HE) pada histologi kolon mencit berdasarkan ketebalan pemotongan mikrotom 3, 6, 9. Jurnal Labora Medika, 7, 31–38. http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/JLabMed

Salsabila, Q., Durachim, A., Wiryanti, W., & Rahmat, M. (2023). Perbandingan kualitas hasil preparat histologi jaringan ginjal dengan fiksasi menggunakan neutral buffer formalin 10% dan etanol 50%. Jurnal Kesehatan Siliwangi, 4(1), 327–333. https://doi.org/10.34011/jks.v4i1.1489

Sofyanita, E. N., Iswara, A., & Priyatno, D. (2022). Minyak zaitun sebagai pengganti xylene pada prosesing jaringan histologis untuk pewarnaan kulit dan hepar mencit dengan Hematoxylin Eosin: Sebuah studi perbandingan. Jaringan Laboratorium Medis, 4(2), 117–124. https://doi.org/10.31983/jlm.v4i2.8688

Wibowo, T., & Maulani, Y. (2024). Perbedaan hasil pewarnaan Hematoxylin-Eosin preparat limfonodi pada proses clearing menggunakan xylol dan minyak zaitun. Plenary Health: Jurnal Kesehatan Paripurna, 1(3), 197–201. https://publikasi.abidan.org/index.php/plenary-health/article/view/562

Downloads

Published

2026-08-23

How to Cite

Wardaniya, N., Christyaningsih, J., Endarini, L. H., & Anggraini, A. D. (2026). PENGGUNAAN METHYLENE BLUE SEBAGAI PENGGANTI HEMATOKSILIN PADA SEDIAAN HISTOLOGI. HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan, 5(4), 878–886. https://doi.org/10.51878/healthy.v5i4.14653

Issue

Section

Articles