ANALISIS FUNGSI DAN MAKNA TUTURAN RITUS ADAT BAU LOLON PADA PEMBANGUNAN LANGO BELE DI DESA HELANLANGOWUYO KECAMATAN ILE BOLENG
DOI:
https://doi.org/10.51878/teaching.v6i4.15908Keywords:
Fungsi, makna, tuturan, ritus adatBau Lolon, Lango BeleAbstract
The relentless currents of modernization and rapid social transformation threaten to erode younger generations' understanding of oral traditions, particularly sacred ritual speech embedded with local indigenous wisdom. This generational disconnect represents a critical empirical gap that jeopardizes cultural transmission within the Lamaholot community, underscoring the urgent need for systematic documentation and linguistic-cultural analysis. This study aims to analyze and describe the functions and meanings of ritual speech in the Bau Lolon customary rite during the construction of Lango Bele in Helanlangowuyo Village, Ile Boleng District, East Flores Regency. Employing a qualitative descriptive design, the data were examined through Roland Barthes' semiotic perspective. Primary data sources were gathered from key informants, including traditional customary leaders (tuan tana), clan elders, and community figures actively engaged in the rite, supplemented by authentic audio recordings of ritual speech (koda). The findings reveal that the Bau Lolon speech embodies seven core functions: ancestral veneration, supplication for protection, invocation of communal prosperity, symbolic delegation of labor, affirmation of Lango Bele's institutional centrality, summoning of ancestral spirits, and petitions for divine blessings coupled with social solidarity. Semiotically, the narratives operate across denotative, connotative, and mythical dimensions, reflecting a harmonious cosmology connecting humanity, the Supreme Being (Rera Wulan Tanah Ekan), ancestors, and nature. In conclusion, the Bau Lolon rite serves as an enduring pillar of cultural identity and collective solidarity that reinforces communal cohesion.
ABSTRAK
Arus modernisasi dan transformasi sosial berpotensi mengikis pemahaman generasi muda terhadap kekayaan tradisi lisan, khususnya tuturan ritual sakral yang sarat akan kearifan lokal. Fenomena degradasi pemaknaan ini menjadi kesenjangan nyata yang mengancam transmisi budaya masyarakat Lamaholot, sehingga dokumentasi dan kajian mendalam terhadap sastra lisan menjadi sangat mendesak untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan fungsi serta makna tuturan dalam ritus adat Bau Lolon pada tahapan pembangunan Lango Bele di Desa Helanlangowuyo, Kecamatan Ile Boleng, Kabupaten Flores Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif serta menerapkan pisau bedah semiotika Roland Barthes. Sumber data utama diperoleh dari informan kunci yang meliputi tokoh adat (tuan tana), tetua suku, dan pemuka masyarakat yang terlibat langsung dalam ritual, didukung dokumen rekaman tuturan adat (koda). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tuturan ritus Bau Lolon menjalankan tujuh fungsi utama, yaitu penghormatan kepada leluhur, permohonan perlindungan, permohonan kesejahteraan, penyerahan pekerjaan, penegasan kedudukan Lango Bele, pemanggilan leluhur, serta permohonan berkat dan solidaritas sosial. Dari perspektif semiotika, tuturan tersebut terstruktur atas makna denotatif, makna konotatif, dan mitos yang merefleksikan kosmologi sakral relasi harmonis manusia dengan Tuhan (Rera Wulan Tanah Ekan), leluhur, dan alam. Kesimpulannya, ritus Bau Lolon merupakan manifestasi identitas kultural dan pranata sosial kolektif yang berfungsi meneguhkan kohesi sosial masyarakat Lamaholot.
Downloads
References
Alqowi, Y. A., & Rawzalgina, A. A. (2025). Fasad dalam Alquran: Analisis semiotika Roland Barthes. KARTIKA: Jurnal Studi Keislaman, 5(3), 2070–2083. https://doi.org/10.31004/kartika.v5i3.1892
Arianti, P. M., Fitriani, S. L., Aprilina, N. C., Ramadhani, N., Ansaria, M. D. N., Lia, D. J. A., & Setiawan, A. (2026). Memori kolektif Prasasti Kembang Sore sebagai sumber belajar sejarah lokal dalam memperkuat identitas sosial pembelajaran IPS. SOCIAL: Jurnal Inovasi Pendidikan IPS, 6(2), 1145–1158. https://doi.org/10.51878/social.v6i2.10546
Bernadus, M. E. (2024). Penghormatan kepada para leluhur dalam ritus Bau Lolon dan perbandingannya dengan devosi kepada para kudus. Adat dan Budaya, 6(1), 41–48. https://doi.org/10.31004/adatbudaya.v6i1.1205
Fajar, T. R., Fatimah, J. M., & Bahfiarti, T. (2025). Analisis semiotika arsitektur rumah adat suku Kajang di Kabupaten Bulukumba. Indonesian Journal of Intellectual Publication, 6(1), 16–27. https://doi.org/10.51577/ijipublication.v6i1.803
Halim, E. A. (2020). Studi tata ruang rumah adat “Siwaluh Jabu” Desa Lingga. Dimensi, 16(2), 167–174. https://doi.org/10.31004/dimensi.v16i2.1450
Haryanti, A. (2018). Upacara adat Ngaruwat Bumi sebagai kajian nilai budaya masyarakat adat Banceuy dalam melestarikan lingkungan. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 5(2), 151–166. https://doi.org/10.21460/jpk.v5i2.1892
Kasih, K. B., & Pratiwi, C. S. (2025). Bahasa, tradisi, dan identitas: Akulturasi budaya dalam masyarakat Pandalungan Kabupaten Jember. QOMARUNA: Journal of Multidisciplinary Studies, 2(2), 126–135. https://doi.org/10.31004/qomaruna.v2i2.2140
Lestari, A., Setiawan, F., & Agustin, E. (2022). Manajemen pendidikan inklusi di sekolah dasar. Arzusin, 2(6), 602–610. https://doi.org/10.58578/arzusin.v2i6.703
Loise, M., Kamaruddin, S. A., Adam, A., & Ahmadin, A. (2026). Menjaga tradisi dari generasi muda: Peran komunitas remaja adat di Desa Legian, Bali. CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan, 6(3), 1602–1614. https://doi.org/10.51878/cendekia.v6i3.10717
Lubis, M. A. Z., Sibarani, R., & Lubis, T. (2026). Performansi tradisi lisan Bapokat pada masyarakat Kecamatan Batahan: Kajian antropolinguistik. Genre: Jurnal Gagasan Pendidikan dan Bahasa, 8(1), 98–111. https://doi.org/10.26555/jg.v8i1.14195
Lumatalale, L., Tutuarima, F., & Metekohy, L. M. (2026). Makna simbolik tentang peletakan batu pertama rumah adat: Studi etnografi di Negeri Neniari Gunung Kecamatan Taniwel Kabupaten Seram Bagian Barat. SOCIAL: Jurnal Inovasi Pendidikan IPS, 6(1), 326–337. https://doi.org/10.51878/social.v6i1.9726
Mailani, O., Nuraeni, I., Syakila, S. A., & Lazuardi, J. (2022). Bahasa sebagai alat komunikasi dalam kehidupan manusia. Jurnal Komunikasi dan Peradaban, 1(2), 1–10. https://doi.org/10.31004/jkp.v1i2.1892
Marasabessy, S., Putuhena, J. D., & Ruman, R. (2026). Analisis penguasaan lahan (tenurial) berbasis kearifan lokal (studi kasus di Negeri Kailolo Kecamatan Pulau Haruku Kabupaten Maluku Tengah). CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan, 6(4), 2902–2911. https://doi.org/10.51878/cendekia.v6i4.14432
Mustaqim, A., & Humaeni, A. (2025). Menjaga tradisi: Transformasi dan keberlanjutan rumah tradisional di era kontemporer. Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia, 3(1), 50–62. https://doi.org/10.61476/cvnwrf44
Paseru, F. P., Gasong, D., & Baan, A. (2025). Tururan ritual Massali Padang pada Rambu Solo’ dalam perspektif Roland Barthes dan implementasi bagi kehidupan masyarakat. JIIP: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 8(8), 8858–8862. https://doi.org/10.54371/jiip.v8i8.8814
Piri, W. (2018). Makna peresmian rumah adat suku Kabelen Ikun pada masyarakat Lebao Kecamatan Solor Timur Kabupaten Flores Timur [Skripsi, Universitas Katolik Widya Mandira]. Repository Universitas Katolik Widya Mandira Surabaya.
Pongpabia, C., & Mangera, E. (2023). Representasi makna pada tuturan Mangriu’ Batu pada prosesi upacara adat Rambu Solo’ di To’pao Lolai Toraja Utara. Jurnal Pendidikan Indonesia, 4(11), 1284–1290. https://doi.org/10.59141/japendi.v4i11.2508
Purba, E., Hutabarat, M. M., Sebayang, R. R., Damanik, S. P., Ambarita, Y., & Febriana, I. (2025). Eksplorasi nilai filosofis rumah adat Karo dalam mempertahankan identitas budaya lokal di era modernisasi. DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 5(4), 5637–5643. https://doi.org/10.53769/deiktis.v5i4.2383
Puspitasari, D., & Saksono, S. T. (2024). Tajhin Sorah dan Tajhin Sappar: Eksplorasi makna simbolis dalam bingkai budaya Madura. Prosodi, 18(2), 330–339. https://doi.org/10.21107/prosodi.v18i2.27381
Ramadhan, R. G., & Fitriah, L. (2025). Aktivitas pada Rumah Adat Tinggi sebagai cerminan identitas nilai sosial dan budaya masyarakat Indragiri Hulu. Misterius, 2(4), 48–54. https://doi.org/10.62383/misterius.v2i4.1021
Runtuwene, M., Nuchri, A. A., & Dariwu, C. T. (2026). Representasi kebudayaan kawasan perbukitan di Desa Woloan dalam arsitektur rumah adat Walewangko. CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan, 6(1), 306–319. https://doi.org/10.51878/cendekia.v6i1.8877
Rutan, M. I. M., Daga, L. L., & Wutun, M. (2018). Studi etnografi makna komunikasi ritual adat Werung Lolong pada masyarakat Lewohala di Desa Todanara Kecamatan Ile Ape Kabupaten Lembata Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jurnal Ilmu Komunikasi (JIKOM), 7(1), Article 1149. https://doi.org/10.35508/jikom.v7i1.2019
Sihombing, A. M., Sobirin, & Herman. (2025). Makna simbolik lompat batu Nias dalam perspektif sastra dan budaya: Kajian semiotik Roland Barthes. Literasi: Jurnal Bahasa dan Sastra, 2(2), 104–115. https://doi.org/10.63462/yw5zwb61
Simanjorang, J., Said, N. N., Aprilla, I., & Batubara, N. A. (2026). Analisis peran tradisi lisan Markobar dalam menjaga eksistensi budaya di era digital pada masyarakat Mandailing. Deiktis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 6(3), 2837–2844. https://doi.org/10.53769/deiktis.v6i3.1892
Slamet, D., Narawati, T., & Budiman, A. (2025). The heroism value in Totokng dance at the Nurutni’ ceremony Dayak Salako community in West Kalimantan. Mudra: Jurnal Seni Budaya, 40(4), 293–311. https://doi.org/10.31091/mudra.v40i4.2950
Wijaya, E. A. R., Aryanto, A., & Sari, I. P. (2026). Makna ubarampe dalam tradisi Srakalan Desa Jono, Bayan, Purworejo kajian semiotika Roland Barthes. Diwangkara: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra dan Budaya Jawa, 5(2), 112–124. https://doi.org/10.60155/dwk.v5i2.645
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.













