MAKNA SIMBOLIK DAN NILAI-NILAI MORAL DALAM RITUAL KILALA PADA KEHIDUPAN RUMAH TANGGA MASYARAKAT CIA-CIA BUTON

Authors

  • Lisna Lisna Universitas Muhammadiyah Malang
  • Daroe Iswatiningsih Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Muhammadiyah Malang
  • Harun Harun Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Muhammadiyah
  • Nuryeni Nuryeni Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Muhammadiyah

DOI:

https://doi.org/10.51878/learning.v6i3.11794

Keywords:

Ritual Kilala, Makna Simbolik, Nilai Moral, Kehidupan Rumah Tangga

Abstract

The kilala ritual is a spiritual activity (divination) used to obtain insights into events related to the past and the future, whether they are considered positive or negative. This study aims to examine the symbolic meanings and moral values contained in the kilala ritual within the household life of the Cia-Cia community in Buton. This research employed a descriptive qualitative method with Clifford Geertz’s symbolic interpretivism approach as the theoretical framework to analyze the research problem. Data analysis was conducted using the Miles, Huberman, and Saldana model, which includes data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that the kilala ritual is carried out through several stages, namely tracing the root of the problem by the pande kilala, the disclosure of emotional wounds by husband and wife, and the presentation of offerings as a medium of prayer and respect for aka. The symbolic meanings of this ritual are reflected in various offering elements such as incense, rice, coins, betel leaves, lime, tobacco, eggs, and fish, which symbolize purity, openness, responsibility, balance, prosperity, and spiritual interconnectedness. The moral values contained in the kilala ritual include self-awareness, openness, responsibility, forgiveness, trustworthiness, and household harmony. Therefore, the kilala ritual is not only interpreted as a spiritual tradition but also functions as a medium of moral learning and family relationship restoration in the life of the Cia-Cia community in Buton.

ABSTRAK

Ritual kilala merupakan aktivitas spiritual (meramal) yang digunakan untuk memperoleh gambaran mengenai peristiwa yang berkaitan dengan masa lalu maupun masa depan, baik yang bersifat baik maupun buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna simbolik serta nilai-nilai moral yang terkandung dalam ritual kilala pada kehidupan rumah tangga masyarakat Cia-Cia di Buton. Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan teori Clifford Geertz mengenai symbol, yaitu interpretisme simbolik untuk membedah masalah penelitian. Analisis data menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual kilala dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu penelusuran akar persoalan oleh pande kilala, pengungkapan luka batin oleh pasangan suami istri, serta penyajian sesajen sebagai sarana doa dan penghormatan kepada aka. Makna simbolik dalam ritual ini tercermin pada berbagai unsur sesajen seperti kemenyan, beras, uang logam, daun sirih, kapur, tembakau, telur, dan ikan yang melambangkan kesucian, keterbukaan, tanggung jawab, keseimbangan, kesejahteraan, dan keterhubungan spiritual. Nilai-nilai moral yang terkandung dalam ritual kilala meliputi kesadaran diri, keterbukaan, tanggung jawab, sikap saling memaafkan, amanah, dan keharmonisan rumah tangga. Dengan demikian, ritual kilala tidak hanya dimaknai sebagai tradisi spiritual, tetapi juga berfungsi sebagai sarana pembelajaran moral dan pemulihan hubungan keluarga dalam kehidupan masyarakat Cia-Cia di Buton.

 

 

Downloads

Download data is not yet available.

References

Afiati, T., Wafiroh, A., & Sofyan, M. S. (2022). Upaya pasangan suami istri tidak memiliki keturunan dalam mempertahankan keharmonisan rumah tangga (Studi kasus di Desa Siru Kabupaten Manggarai Barat NTT). Al-IHKAM: Jurnal Hukum Keluarga, 14(2), 161–184. https://doi.org/10.20414/alihkam.v14i2.6927

Ajisaputri, I. L. (2021). Putusnya perkawinan “perceraian” terhadap seseorang disebabkan tidak saling menghormati dan menghargai antar pasangan suami isteri. Jurnal Indonesia Sosial Sains, 2(5), 780–791. https://doi.org/10.36418/jiss.v2i5.297

Erfan, M., Fadillah, N., & Fitriah, F. (2024). Hukum adat di Indonesia: Aspek, teori, dan penerapan. MAQASHIDUNA: Jurnal Hukum Keluarga Islam, 2(2), 123–147. https://doi.org/10.47732/maqashiduna.v2i2.568

Fatimah, S., & Rachmawati, I. (2023). Komunikasi asertif dalam membangun rasa keterbukaan diri pada pasangan menikah muda. Bandung Conference Series: Public Relations, 3(2), 697–702. https://doi.org/10.29313/bcspr.v3i2.8835

Fatwa, M. (2026). Pendidikan karakter berbasis kearifan lokal dalam membangun pribadi santri di Pondok Pesantren Darul Amanah Kendal. LEARNING: Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan Dan Pembelajaran, 6(1), 537–547. https://doi.org/10.51878/learning.v6i1.9593

Chrisdinando, G., & Tinambunan, E. R. L. (2024). Kakang kawah dan adhi ari-ari: Saudara spiritual orang Jawa (Tinjauan angelologi Kristiani). Jurnal Teologi, 13(1), 1–22. https://doi.org/10.24071/jt.v13i01.5297

Habibuddin, H., Burhanuddin, B., Apriana, D., & Yunitasari, D. (2021). Inkulkasi nilai-nilai nirkekerasan dalam budaya lokal suku Sasak di sekolah dasar. Jurnal DIDIKA: Wahana Ilmiah Pendidikan Dasar, 7(1), 121–142. https://doi.org/10.29408/didika.v7i1.3843

Hartono, B., Siregar, M., & Sriharini, S. (2022). Konsep integrasi pendidikan islam dan kewirausahaan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, 11(2), 85–102. https://doi.org/10.30868/ei.v11i02.2210

Hastuti, N. H., & Supriyadi, A. (2020). Memperhatikan karakteristik budaya dalam fenomena kehidupan bermasyarakat. Adi Widya: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 4(2), 131–141. https://doi.org/10.33061/awpm.v4i2.3883

Jayani, N., Purnama, M., Lidiawati, C., Habibi, S., & Rotari, S. (2026). Akulturasi nilai sosial budaya dalam tradisi tonjokan (hantaran). CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan, 6(2), 917–926. https://doi.org/10.51878/cendekia.v6i2.9331

Lao, H. A. E., Tari, E., & Hale, M. (2021). Pola komunikasi interpersonal bagi keluarga beda agama di Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang. Harmoni, 20(1), 129–143. https://doi.org/10.32488/harmoni.v20i1.493

Lismawanty, A., Dwiatmini, S., & Yuningsih, Y. (2021). Makna simbolis upacara ritual nadran empang di Desa Karangsong Kabupaten Indramayu (Kajian simbol dan nilai budaya). Jurnal Budaya Etnika, 5(2), 99–122. https://doi.org/10.26742/jbe.v5i2.1762

Lumatalale, L., Tutuarima, F., & Metekohy, L. M. (2026). Makna simbolik tentang peletakan batu pertama rumah adat: Studi etnografi di Negeri Neniari Gunung Kecamatan Taniwel Kabupaten Seram Bagian Barat. SOCIAL: Jurnal Inovasi Pendidikan IPS, 6(1), 326–337. https://doi.org/10.51878/social.v6i1.9726

Muzan, A., Muir, S., Basri, H., Gemilang, K. M., & Darulhuda, D. (2023). Mitigasi konflik rumah tangga dalam upaya menjaga keutuhan keluarga sakinah. Hukum Islam, 22(2), 52–65. https://doi.org/10.24014/jhi.v22i2.21434

Nasir, K., & Ahmad, K. (2020). Roh manusia menurut perspektif agama, falsafah dan budaya dunia: Suatu sorotan literatur [The human spirit according to the perspective of world religion, philosophy and culture: A literature review]. Jurnal Dunia Islam, 1(1), 119–138.

Piartha, I. N. (2020). Manifestasi Tuhan pada tubuh manusia dalam teks Anggastya Prana. Sanjiwani: Jurnal Filsafat, 9(2), 146–155. https://doi.org/10.25078/sjf.v9i2.1620

Qotrunnada, L., & Masyithoh, S. (2025). Peran akhlak dalam membangun keharmonisan rumah tangga pada era modernisasi moral. Jurnal IHSAN: Jurnal Pendidikan Islam, 3(3), 755–761. https://doi.org/10.61104/ihsan.v3i3.1511

Sanderan, R. (2020). INTUISI: Pendalaman gagasan Hans-Georg Gadamer tentang intuisi sebagai supralogika. Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH), 2(2), 114–125. https://doi.org/10.37364/jireh.v2i2.39

Sanusi, B. (2020). Relasi perempuan-laki-laki pada komunitas Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Indramayu: Suatu eksplorasi antropologis. JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, 6(2), 247–260. https://doi.org/10.24235/jy.v6i2.7257

Sauky, M. A., & Bukhori, B. (2021). Makna sosial dalam nilai-nilai budaya Sunda pada lakon wayang golek Ki Dalang Wisnu Sunarya. TEMALI: Jurnal Pembangunan Sosial, 4(2), 155–167. https://doi.org/10.15575/jt.v4i2.12722

Setiawan, A. C., & Suparman, M. Y. (2026). Studi kualitatif: Strategi komunikasi pasangan menikah dalam mempertahankan hubungan jarak jauh. PAEDAGOGY: Jurnal Ilmu Pendidikan Dan Psikologi, 6(1), 174–186. https://doi.org/10.51878/paedagogy.v6i1.8972

Wicaksono, H., Khunaefi, W., Rini, H. S., Arsi, A. A., Gunawan, G., Kurniawati, D. W., Utama, A. P. W., & Romadhoni, A. A. (2025). Power relations between husband and wife in interfaith families in Pancasila Village. KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture, 17(2), 138–156. https://doi.org/10.15294/komunitas.v17i2.22635

Yunianti, N. I., Fazilatunnisa, & Masyithoh, S. (2025). Memahami akhlak dalam kehidupan rumah tangga dan moralitas budaya modern. Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS), 1(2), 447–452. https://doi.org/10.62667/ijis.v1i2.1111

Downloads

Published

2026-06-17

How to Cite

Lisna, L., Iswatiningsih, D., Harun, H., & Nuryeni, N. (2026). MAKNA SIMBOLIK DAN NILAI-NILAI MORAL DALAM RITUAL KILALA PADA KEHIDUPAN RUMAH TANGGA MASYARAKAT CIA-CIA BUTON. LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan Dan Pembelajaran, 6(3), 2227–2239. https://doi.org/10.51878/learning.v6i3.11794

Issue

Section

Articles

Similar Articles

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.