RESEPSI MAHASISWA ASAL BOLAANG MONGONDOW TERHADAP LIRIK LAGU “TANO-TANOBON” DAN “MORAOY” CIPTAAN BERNARD GINUPIT DAN KECINTAAN PADA BUDAYA DAERAH
DOI:
https://doi.org/10.51878/cendekia.v6i4.16553Keywords:
Bolaang Mongondow, identitas budaya, lagu daerah, resepsi sastraAbstract
This study aims to describe the literary reception of students from Bolaang Mongondow enrolled in the Faculty of Language and Arts (FBS) at Manado State University toward the lyrics of the regional songs “Tano-Tanobon” and “Moraoy”, as well as to identify their meanings, cultural values, and implications for the interpretation of regional identity. This study employed a descriptive qualitative method using a literary reception approach. Data were collected through open-ended questionnaires distributed via Google Forms to 20 students from Bolaang Mongondow studying at the Faculty of Language and Arts, Manado State University. The data were analyzed by categorizing respondents’ answers, identifying patterns of interpretation, and interpreting their responses based on emerging themes. The findings indicate that both songs received positive responses and were perceived as representations of Bolaang Mongondow culture and regional identity. The song “Tano-Tanobon” was interpreted in relation to longing for one's hometown and emotional attachment to one's place of origin, whereas “Moraoy” was understood as an expression of love for and pride in regional culture. These interpretations were reflected in the students’ practices, including listening to the songs with fellow members of their student association, introducing regional culture and traditional foods, performing traditional dances while living away from home, and using the regional language in everyday interactions. Respondents also associated both songs with the cultural values embodied in the Bolaang Mongondow trimoto: Mototompiaan (doing good and helping one another improve), Mototabian (loving and caring for one another), and Mototanoban (reminding one another). These findings indicate that the two songs are perceived as means of expressing longing, pride, and the preservation of cultural identity among students living away from their hometown. However, the findings reflect respondents’ perceptions and do not establish that listening to the songs increases their love for regional culture.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan resepsi mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Manado asal Bolaang Mongondow terhadap lirik lagu daerah “Tano-Tanobon” dan “Moraoy”, serta mengidentifikasi makna, nilai budaya, dan implikasinya terhadap pemaknaan identitas daerah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan resepsi sastra. Data diperoleh melalui kuesioner terbuka berbasis Google Forms yang diisi oleh 20 mahasiswa FBS Universitas Negeri Manado asal Bolaang Mongondow. Data dianalisis melalui pengelompokan jawaban responden, identifikasi pola pemaknaan, dan interpretasi resepsi berdasarkan tema-tema yang muncul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua lagu memperoleh resepsi positif dan dipahami sebagai representasi budaya serta identitas daerah Bolaang Mongondow. Lagu “Tano-Tanobon” dimaknai dalam kaitannya dengan kerinduan terhadap kampung halaman dan kedekatan emosional dengan daerah asal, sedangkan lagu “Moraoy” dipahami sebagai bagian dari ekspresi kecintaan dan kebanggaan terhadap budaya daerah. Pemaknaan tersebut tercermin dalam kebiasaan mendengarkan lagu bersama teman-teman paguyuban, memperkenalkan budaya dan makanan khas daerah, menampilkan tarian tradisional di perantauan, serta menggunakan bahasa daerah dalam interaksi sehari-hari. Responden juga mengaitkan kedua lagu dengan nilai-nilai dalam trimoto Bolaang Mongondow, yaitu Mototompiaan (saling memperbaiki atau berbuat baik), Mototabian (saling menyayangi), dan Mototanoban (saling mengingatkan). Temuan ini menunjukkan bahwa kedua lagu dimaknai sebagai sarana ekspresi kerinduan, kebanggaan, dan pemeliharaan identitas budaya oleh mahasiswa perantau. Namun, hasil penelitian menggambarkan persepsi responden dan tidak membuktikan adanya peningkatan kecintaan terhadap budaya akibat mendengarkan lagu.
Downloads
References
Ardiansyah, W., & Amalia, D. R. (2017). Pembangunan Aplikasi Media Pembelajaran Lagu Daerah Berbasis Teknologi Multimedia. Jurnal ICT : Information Communication & Technology, 16(2), 48–52. https://doi.org/10.36054/jict-ikmi.v16i2.22
Andaryani, E. T., & Utomo, U. (2024). Tegalan song: An expression of musical culture identity of the coastal communities of Northern Coast of Java. Harmonia: Journal of Arts Research and Education, 24(1). https://doi.org/10.15294/harmonia.v24i1.42383
Angriani, I., Nurfina, N., Marisa, M., & Syafruddin, S. (2025). Implementasi Lagu Daerah “Nahu Ma Dawara” Sebagai Sarana Komunikasi Sosial. Jurnal Pesona Indonesia, 2(2), 37–41.
Bahruddin, B., Irwiadi, I., Basuki, I. A., & Martutik, M. (2024). Leksikon alam dalam lagu daerah Tanduk Majheng sebagai pembentukan identitas budaya masyarakat Madura: Analisis ekolinguistik. GHANCARAN: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 170–183. https://doi.org/10.19105/ghancaran.vi.17196
Braun, V., & Clarke, V. (2006). Using thematic analysis in psychology. Qualitative Research in Psychology, 3(2), 77–101. https://doi.org/10.1191/1478088706qp063oa
Gardner, A., & Hansen, K. A. (2024). Mapping the music of migration: Emergent themes and challenges. European Journal of Cultural Studies, 27(1), 3–16. https://doi.org/10.1177/13675494231156120
Hakim, M. A., Kurniawan, E., Gunawan, W., & Hermawan, B. (2024). Maintaining local languages in the elementary schools in Indonesia through Pierre Bourdieu’s cultural reproduction strategies. Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI, 11(1). https://syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/ibtida/article/view/17345
Jama, K. B., & Menggo, S. (2024). Language and cultural values exploration of traditional songs in Malakan Ethnic, Eastern Indonesia. LITE: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya, 20(2), 105–118. https://doi.org/10.33633/lite.v20i2.10859
Kusuma Dewi, A. A. (2021). Media Pembelajaran Lagu-Lagu Daerah dan Budaya Berbasis Android. INTECOMS: Journal of Information Technology and Computer Science, 4(1), 80–87. https://doi.org/10.31539/intecoms.v4i1.2019
Mulyani, M., Trisnawati, I. K., Syarfuni, S., Syahputra, M., Sariakin, S., & Rosdiana, R. (2024). Do we need mother tongue language maintenance in Aceh? Voices from the school setting. Studies in English Language and Education, 11(2). https://doi.org/10.24815/siele.v11i2.34781
Pratikno, A. S., & Hartatik, A. (2023). Pudarnya eksistensi kesenian tradisional ludruk akibat globalisasi budaya. Civis: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Dan Pendidikan, 12(2), 141-155. https://doi.org/10.26877/civis.v12i2.10623
Santoso, G., Ramadhania, A., Hidayat, A. S., Ramadhania, A., Sabila, T. N., & Geifira, G. (2023). Mengenal Lagu Daerah dan Lagu Nasional Republik Indonesia sebagai Pendidikan Multikultural bagi Mahasiswa Jurnal Pendidikan Transformatif ( Jupetra ). Jurnal Pendidikan Transformatif (Jupetra), 02(02), 325–335.
Sugiyono, P. D. (2019). Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. CV. Alfabeta, Bandung, 25.
Syahputra, H., Sitanggang, W., Andrean, K., & Mawaddah, S. (2025). FILSAFAT NUSANTARA Nilai-nilai Kearifan Lokal Berbagai Suku Bangsa. Merdeka Kreasi Group.
Warnengsih, Muamar, & Nurpratiwiningsih, L. (2022). Analisis Minat Belajar Lagu Daerah Bagi Peserta Didik Kelas IV SD. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 2022(19), 406–413. https://doi.org/10.5281/zenodo.7175837
















