PENJATUHAN PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA KORUPSI DALAM PERSPEKTIF KEADILAN
DOI:
https://doi.org/10.51878/cendekia.v6i4.16277Keywords:
Tindak Pidana Korupsi, Sanksi Pidana, Keadilan, Proporsionalitas, Kerugian Keuangan NegaraAbstract
ABSTRACT
Fairness in sentencing perpetrators of corruption is determined not only by the severity of punishment but also by the proportionality of sanctions to the degree of culpability, the characteristics of the offense, and the resulting harm. Although Law Number 31 of 1999, as amended by Law Number 20 of 2001, establishes the legal framework for the liability and punishment of corruption offenders, its implementation continues to face challenges concerning sentencing disparities, the consistency of judicial reasoning, and the recovery of state financial losses. This study aims to analyze the imposition of criminal sanctions on corruption offenders from the perspective of justice. It employs normative legal research using the statutory, conceptual, and case approaches. Legal materials are analyzed qualitatively through an examination of relevant legislation, theories of justice, and judicial reasoning. The findings indicate that the existing legal framework provides a basis for punishing corruption offenders; however, achieving fairness requires greater consistency in determining sanctions, well-reasoned and accountable judicial decisions, and the optimization of additional penalties to support the recovery of state financial losses. This study concludes that fair sentencing must integrate proportionality of punishment, legal certainty, and the recovery of state financial losses in accordance with applicable laws and regulations.
ABSTRAK
Keadilan dalam penjatuhan pidana korupsi tidak hanya ditentukan oleh beratnya hukuman, tetapi juga oleh kesesuaian sanksi dengan tingkat kesalahan, karakteristik perbuatan, dan dampak yang ditimbulkan. Meskipun Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 telah mengatur pertanggungjawaban dan sanksi bagi pelaku korupsi, penerapannya masih menghadapi persoalan terkait perbedaan putusan, konsistensi pertimbangan hakim, dan pemulihan kerugian keuangan negara. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan sanksi pidana terhadap pelaku tindak pidana korupsi berdasarkan prinsip keadilan. Penelitian menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach), konseptual (conceptual approach), dan kasus (case approach). Bahan hukum dikaji secara kualitatif melalui penelaahan ketentuan peraturan perundang-undangan, konsep keadilan, dan pertimbangan hakim yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerangka hukum telah menyediakan dasar bagi pemidanaan pelaku korupsi, tetapi penerapan keadilan memerlukan konsistensi dalam menentukan sanksi, argumentasi putusan yang dapat dipertanggungjawabkan, serta optimalisasi pidana tambahan untuk mendukung pengembalian kerugian negara. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemidanaan yang berkeadilan harus mengintegrasikan proporsionalitas hukuman, kepastian hukum, dan pemulihan kerugian negara sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Downloads
References
Adhim, M. S., Madjid, A., & Afandi, F. (2025). The dynamics of judicial independence in corruption sentencing: Between judicial discretion and the principle of legal certainty. Legal Horizons, 24(1), 63–72. https://legalhorizons.com.ua/lh/article/view/192
Amagnya, M. A. (2025). Corruption quantum comparison and suspicion-based corruption: New corruption neutralization and justification techniques? International Criminal Justice Review, 36(1), 79–100. https://journals.sagepub.com/doi/full/10.1177/10575677251361870
Arifin, R., & Utari, I. S. (2026). Economic efficiency of asset recovery mechanisms in corruption cases: A law and economics approach. The Indonesian Journal of Economic Analysis of Law, 1(1), 103–136. https://inleads.id/publications/index.php/IJEAL/article/view/10
Astriani, N. J., & Bangun, A. R. (2026). Analisis normatif terhadap efektivitas sanksi pidana tambahan dalam upaya pengembalian kerugian keuangan negara. Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 2(9), 5077–5087. https://publikasi.ahlalkamal.com/index.php/sinergi/article/view/780
Aurora, A. (2026). Penerapan asas proporsionalitas dalam penjatuhan sanksi pidana terhadap pelaku tindak pidana korupsi: Putusan No. 29/Pid. Sus-TPK/2021/PN. JKT. PST. ALADALAH: Jurnal Politik, Sosial, Hukum dan Humaniora, 4(1), 185–196. https://journal.insyaka.ac.id/index.php/ALADALAH/article/view/1746
Bjerregaard, B., Fogel, S. J., & Smith, M. D. (2026). Strategic motions and judicial discretion: Change of venue motions in North Carolina capital punishment cases. Journal of Criminal Justice, 105, Article 102705. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0047235226001121
Cahyaning, C., Santoso, B., & Sa'adah, N. (2026). Rancangan undang-undang perampasan aset: Tinjauan teori keadilan korektif Aristoteles (Studi kasus korupsi Adelin Lis dan Lukas Enembe). SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum, 5(4), 2524–2536. https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/seikat/article/view/3333
Daulay, A. F. (2025). Sentencing disparities in corruption cases and judicial discretion in Indonesian courts. Jurnal Ilmu Hukum Kyadiren, 6(2), 160–172. https://doi.org/10.46924/jihk.v6i2.248
Ghondohi, L. O., Karim, H. M. S., Muhadar, M., Rahman, A., & Maratovna, Y. A. (2025). Asset recovery from mining corruption: Rationality, urgency, and challenges for environmental restoration. Journal of Law, Environmental and Justice, 3(2), 446–475. https://journal.iueam.org/index.php/JLEJ/article/view/172
Harahap, A., Ismaidar, I., Siregar, A. R. M., Manihuruk, A. P., Pariyono, B. A., Sinaga, B. V., & Simbolon, D. (2026). Paradoks pembaruan hukum pidana terhadap pengurangan ancaman pidana minimum tindak pidana korupsi dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Dewantara: Jurnal Pendidikan Sosial Humaniora, 5(2), 549–562. https://jurnaluniv45sby.ac.id/index.php/Dewantara/article/view/6992
Hidayat, I. (2026). Penjatuhan pidana terhadap pelaku tindak pidana korupsi dalam perspektif keadilan. Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial, 4(2), 3885–3891. https://pchukumsosial.org/index.php/pchs/article/view/591
Knowlton, S. A., & Rich, S. (2025). Making the punishment fit: Individualization and parity as principles of proportionality. Dalhousie Law Journal, 48(2), 731. https://digitalcommons.schulichlaw.dal.ca/dlj/vol48/iss2/9/
Kovalaski, K., & Rustamaji, M. (2023). Kesesuaian pertimbangan hakim yang menyebabkan disparitas pemidanaan dalam tindak pidana korupsi dengan KUHAP. Verstek, 11(1), 50–58. https://jurnal.uns.ac.id/verstek/article/view/70923
Mahendra, N. P. Y. A., Hartono, M. S., Ardhya, S. N., Dantes, K. F., & Pura, I. W. E. G. (2026). Urgensi pengesahan RUU perampasan aset pidana dalam pemulihan kerugian negara akibat korupsi di Indonesia. Jurnal Ilmu Hukum Sui Generis, 6(1), 30–39. https://ejournal2.undiksha.ac.id/index.php/JIH/article/view/8327
Movahedi, A., & Darzi Ramandi, A. (2026). Contradiction or overlap between the principle of minimum and the principle of proportionality in sentencing criteria. Journal of Criminal Law and Criminology, 14(29), 231-267. https://jclc.sdil.ac.ir/article_242363.html?lang=en
Nastin, E., Syah, A. S. R., & Tuasikal, R. H. (2025). Pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana tambahan pencabutan hak politik pada perkara korupsi. Judge: Jurnal Hukum, 6(2), 161–174. https://journal.cattleyadf.org/index.php/Judge/article/view/1361
Paruntu, N. K., & Sudiro, A. (2025). Pergeseran paradigma pemulihan aset dalam tindak pidana korupsi untuk mewujudkan optimalisasi pengembalian kerugian negara. Jurnal USM Law Review, 8(3), 1903–1929. https://journals.usm.ac.id/index.php/julr/article/view/12888
Ramadhan, R. F., & Nurunnisa, N. (2025). Pemidanaan pada perkara tindak pidana korupsi suap Mardani H. Maming dalam perspektif keadilan. SANGAJI: Jurnal Pemikiran Syariah dan Hukum, 9(1), 145–159. https://ejournal.iaimbima.ac.id/index.php/sangaji/article/view/4476
Salsabila, S., Triningsih, A., & Ahmad, A. S. (2026). Analisis yuridis pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan perkara tindak pidana korupsi (Studi Putusan Nomor 36/Pid. Sus-TPK/2025/PN. Jkt. Pst). Public Policy: Jurnal Aplikasi Kebijakan Publik dan Bisnis, 7(2). https://e-journal.stia-saidperintah.id/index.php/ppj/article/view/30
Saragih, M. R. S. (2026). Disparitas sanksi tindak pidana korupsi dalam perspektif hukum pidana Islam. Jurnal Tana Mana, 7(2), 532–544. https://ojs.staialfurqan.ac.id/jtm/article/view/1807
Syamza, R., & Faniyah, I. (2025). Efektivitas pelaksanaan pidana tambahan pembayaran uang pengganti oleh jaksa eksekutor terhadap penanggulangan tindak pidana korupsi. Jurnal Sakato Ekasakti Law Review, 4(2), 138–145. https://journal.unespadang.ac.id/JSELR/article/view/491
Yusuf, A., Wantu, F. M., & Muhtar, M. H. (2025). Disparitas putusan hakim dalam tindak pidana penipuan dan implikasinya terhadap kepastian hukum. SINERGI: Jurnal Riset Ilmiah, 2(2), 836–848. https://manggalajournal.org/index.php/SINERGI/article/view/923
















