DESKRIPSI AKULTURASI TERHADAP PENYAJIAN MUSIK PADA UPACARA ADAT PERKAWINAN SIMALUNGUN DI DESA SARIBUDOLOK KECAMATAN SILIMAKUTA KABUPATEN SIMALUNGUN
DOI:
https://doi.org/10.51878/cendekia.v6i4.13641Keywords:
Akulturasi Musikal, Etnomusikologi, Musik Tradisional SimalungunAbstract
ABSTRACT
The ethnic diversity of Saribudolok Village, Silimakuta District, Simalungun Regency, has created a setting for cultural interaction that influences the development of music in Simalungun traditional wedding ceremonies. This phenomenon provides the basis for examining how cultural acculturation shapes changes in musical composition, performance practices, and musical structure within traditional ceremonial contexts. The study employed a descriptive qualitative approach from an ethnomusicological perspective through field observations, in-depth interviews, documentation, and interpretative data analysis. The findings reveal that the ceremonial sequence continues to preserve the fundamental structure of Simalungun tradition, while changes occur in the musical elements performed during the ceremony. The replacement of the traditional gondang ensemble with the keyboard has been accompanied by a shift in the function of music from ritual accompaniment to entertainment, the increasing use of Toba and Karo repertoires in ceremonial performances, and the declining transmission of traditional songs to younger generations. Furthermore, the analysis of the song Sibirong-Birong demonstrates the integration of Batak pentatonic melodic idioms with the Western diatonic scale, reflecting a process of musical adaptation without eliminating local musical characteristics. These findings indicate that changes in musical composition result from cultural negotiation, enabling the community to preserve the musical identity of Simalungun while adapting to the social dynamics of a multiethnic society. This study enriches the field of ethnomusicology by advancing the understanding of musical acculturation and providing a foundation for strengthening the documentation, preservation, and regeneration of Simalungun traditional music.
ABSTRAK
Keberagaman etnis di Desa Saribudolok, Kecamatan Silimakuta, Kabupaten Simalungun, menciptakan ruang interaksi budaya yang berpengaruh terhadap perkembangan musik dalam upacara adat perkawinan Simalungun. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses pelaksanaan upacara adat perkawinan, mengidentifikasi bentuk akulturasi yang memengaruhi komposisi musik, serta menganalisis penyajian dan struktur musikal yang berkembang sebagai dampak interaksi antaretnis. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dokumentasi, dan analisis data secara interpretatif terhadap temuan etnomusikologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rangkaian upacara adat masih mempertahankan struktur pokok tradisi, meskipun beberapa unsur telah mengalami penyesuaian akibat interaksi budaya Batak Simalungun, Batak Toba, dan Batak Karo. Akulturasi tercermin pada perubahan instrumen dari ansambel gondang menuju keyboard, pergeseran fungsi musik dari media ritual menjadi sarana hiburan, dominasi repertoar Toba dan Karo dalam prosesi adat, serta berkurangnya pewarisan lagu-lagu tradisional kepada generasi muda. Analisis terhadap lagu Sibirong-Birong memperlihatkan perpaduan idiom melodi pentatonis Batak dengan sistem tangga nada diatonis Barat sebagai bentuk adaptasi musikal. Temuan ini menegaskan bahwa perubahan komposisi musik merupakan konsekuensi dari perubahan cara pandang masyarakat terhadap fungsi musik dalam adat, sekaligus memberikan kontribusi bagi penguatan kajian etnomusikologi dan menjadi dasar bagi upaya pelestarian serta regenerasi musik tradisional Simalungun.
Downloads
References
Anandani, H. P., Amalah, N., Tussadiah, N. R., & Yuliana, N. (2025). Fenomena Hallyu: Tantangan dalam akulturasi pada kalangan remaja di Indonesia. Jurnal Dinamika Sosial Budaya, 27(2), 23–33. https://journals.usm.ac.id/index.php/jdsb/article/view/11293
Buttu, R. A., Devisa, O., & Rombe, A. P. (2024). POMPANG: Transformasi alat musik tradisional dalam masyarakat Mamasa. Cantata Deo: Jurnal Musik dan Seni, 2(2), 104–113. https://doi.org/10.69748/jmcd.v2i2.204
Dary, M. (2022). Kubang Balombak: Dendang Sampelong dari Nagari Talang Maua sebuah proses transformasi budaya. IKONIK: Jurnal Seni dan Desain, 4(1), 10–15. https://doi.org/10.51804/ijsd.v4i1.1508
Filippidou, E. (2022). Acculturation strategies and dance. Journal of Ethnic and Cultural Studies, 9(2), 216–233. https://www.jstor.org/stable/48710346?seq=1
Giri, S. (2022). Participatory ethnomusicology: An epistemic approach to social justice, human rights, and the sustainability of the traditional arts of minorities. The International Journal of Traditional Arts, 4(1). https://ojp.ncl.ac.uk/index.php/ijta/article/view/54
Hasibuan, N. A., Erasiah, E., & Hakim, L. (2024). Akulturasi budaya pernikahan antara masyarakat Batak dengan masyarakat Jawa di Kecamatan Barumun Selatan. Innovative: Journal of Social Science Research, 4(4), 16831–16844. https://j-innovative.org/index.php/Innovative/article/view/13338
Nainggolan, A. N., Simanjuntak, H. L., & Galingging, K. (2026). Teknik permainan saxofon alto oleh Jetro Manalu dalam mengiringi repertoar: Studi kasus upacara pernikahan di Sidikalang. Visi Sosial Humaniora, 7(1), 91–104. https://ejournal.uhn.ac.id/index.php/humaniora/article/view/3264
Puspawati, S., Kaamilah, S. A., Halimatussya’diah, P., Malizar, R. R., Faiq, M. I., Bahar, S., & Alfaruq, F. A. (2025). Refleksi nilai alat musik Sape' dan identitas komunitas Dayak di tengah arus modernisasi. Al-Furqan: Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya, 4(6), 2508–2515. https://publisherqu.com/index.php/Al-Furqan/article/view/3362
Saragih, S. T. (2022). Upaya melestarikan budaya Simalungun di era digitalisasi. JEBIT MANDIRI: Jurnal Ekonomi Bisnis dan Teknologi, 2(1), 43–48. https://ejournal.politeknikmbp.ac.id/index.php/jebit/article/view/114
Saputra, R., Hasanah, N., Azis, M., Putra, M. A., & Armayadi, Y. (2024). Peran seni dalam mempertahankan identitas budaya lokal di era modern. Besaung: Jurnal Seni Desain dan Budaya, 9(2), 183–195. https://doi.org/10.36982/jsdb.v9i2.4044
Sembiring, R. P. B., & Lestari, F. A. (2024). Revitalisasi bahasa daerah dalam era globalisasi antara pelestarian dan modernisasi. Basaya: Jurnal Bahasa, Sastra dan Budaya, 1(1), 24–29. https://jurnal.inovasipendidikankreatif.com/index.php/BASAYA/article/view/46
Sheng, X. (2025). Comment on “Embodiment and inspiration of Chinese philosophy of life in traditional music education”. Trans/Form/Ação, 48(6), e025158. https://www.scielo.br/j/trans/a/PvJKz9HRsNVstD5DjgwFzJp/?lang=en
Simanjuntak, F., Purba, M., & Sebayang, V. A. (2024). Akulturasi dan struktur penyajian musik kontemporer pada upacara adat Mangongkal Holi. Jurnal Darma Agung, 32(3), 24–36. http://jurnal.universitasdarmaagung.ac.id/jurnaluda/article/view/4396
Sinaga, L. A. (2026). Pengaruh akulturasi budaya Barat melalui perkembangan instrumen keyboard terhadap musik etnis Batak Toba. Tamumatra: Jurnal Seni Pertunjukan, 8(2), 197–204. https://doi.org/10.29408/tmmt.v8i2.34744
Tamba, R. F. (2026). Musik Pop Batak sebagai representasi identitas kultural: Sebuah kajian historis dan sosial 1990–2010. Ekspresi, 15(1). https://journal.isi.ac.id/index.php/ekspresi/article/view/17374
Tua, E. S., Dewi, H., & Sitopu, S. (2026). Analisis musikal dan makna tekstual lagu populer Marsada Band Masihol, Anju Ma Au, Martikki karya kelompok musik Marsada Band di Desa Tomok Samosir. NUSANTARA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial, 13(1), 86–90. https://jurnal.um-tapsel.ac.id/index.php/nusantara/article/view/22610
Turnip, B. R., Untari, E. N., Garingging, R. E. S., & Siregar, R. R. (2025, December). Upaya pelestarian bahasa dan tradisi Simalungun di tengah arus globalisasi. In SEMNAS KABASTRA: Prosiding Seminar Nasional Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya (Vol. 2, No. November, pp. 57–62). https://journal.untidar.ac.id/index.php/semnas-kabastra/article/view/3342
Utami, E., & Syahputra, A. (2026). Eksistensi lagu Rere Ma Na Rere di dalam upacara adat pernikahan Batak Mandailing di Nagari Ujung Gading Kabupaten Pasaman Barat: Kajian musikologi. Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara, 2(7), 241–252. https://padangjurnal.web.id/index.php/menulis/article/view/1308
Vishal, M. A., & Dilfa, A. H. (2025). Pemanfaatan media sosial sebagai regenerasi musik tradisional Minangkabau kepada generasi muda melalui content creator musik tradisi. Abstrak: Jurnal Kajian Ilmu Seni, Media dan Desain, 2(6), 34–51. https://doi.org/10.62383/abstrak.v2i6.967
Wahyuna, K. S. I. (2021). Deskripsi analisis musik pada upacara adat perkawinan masyarakat Simalungun di Desa Bangun Purba. Grenek Music Journal, 10(2), 120–132. https://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/33064
Widodo, A. H. F. (2025). Ethnomusicology in the virtual era: Questioning the ‘Ethnos’ concept in online music communities. APPLIED Ethnomusicology, 1(1), 1–15. https://journal.isi.ac.id/index.php/applied/article/view/15453
Yadav, D., Savita, S., & Kaur, S. (2026). Assessing hospital service quality: A systematic review using PRISMA and SERVQUAL to explore patient satisfaction and loyalty. Asia Pacific Journal of Health Management, 21(1). https://doi.org/10.24083/apjhm.v21i1.3619
Yolanda, R., & Syeilendra, S. (2025). Upaya pelestarian musik Talempong Pacik di Kenagarian Lawang Mandahiling. Filosofi: Publikasi Ilmu Komunikasi, Desain, Seni Budaya, 2(1), 213–220. https://doi.org/10.62383/filosofi.v2i1.554
















