REPRESENTASI BUDAYA LOKAL PADA LEGENDA DANAU TOBA DI ERA DIGITAL
DOI:
https://doi.org/10.51878/cendekia.v5i3.6238Keywords:
representasi budaya lokal, Legenda Danau Toba, digitalisasi, pelestarian budayaAbstract
This research aims to analyze the representation of local culture in the Legend of Lake Toba as presented through blog media in the digital era. The background of this study is rooted in concerns about the potential reduction of cultural values in the process of digitizing folktales, as well as the importance of preserving local cultural identity amid globalization and the advancement of information technology. The research employs a descriptive-analytical qualitative approach, with primary data consisting of two versions of the Legend of Lake Toba: the original text version and the digital version from the blog "Cerita Nusantara". The findings reveal that while some cultural elements such as the agrarian setting, family structure, spiritual values, and geographical symbolism are preserved, significant changes occur in narrative delivery, the reduction of local vocabulary, and the addition of visual and narrative elements. These changes impact cultural interpretation and may lead to the loss of depth in local cultural values. However, digitization also presents opportunities for broader cultural preservation and dissemination, particularly among younger generations. The digital transformation of folk literature like the Legend of Lake Toba is a complex process that requires caution to ensure cultural values are not diminished by the demands of modern media. Therefore, culturally sensitive adaptation strategies are necessary to ensure that digital media serves as a means of preservation rather than a distortion of local culture.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi budaya lokal dalam Legenda Danau Toba yang disajikan melalui media blog di era digital. Latar belakang penelitian ini dilandasi oleh kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya reduksi nilai-nilai budaya dalam proses digitalisasi cerita rakyat, serta pentingnya menjaga identitas budaya lokal di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi informasi. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif-analitis, dengan data utama berupa dua versi cerita Legenda Danau Toba: versi teks asli dan versi digital dari blog “Cerita Nusantara”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun beberapa unsur budaya seperti latar agraris, struktur keluarga, nilai spiritual, dan simbolisme geografis tetap dipertahankan, terdapat perubahan signifikan dalam bentuk penyampaian narasi, pengurangan kosakata lokal, serta penambahan elemen visual dan naratif. Perubahan ini berdampak pada pemaknaan budaya dan dapat menyebabkan hilangnya kedalaman nilai-nilai budaya lokal. Namun, digitalisasi juga membuka peluang bagi pelestarian dan penyebaran budaya kepada generasi muda secara lebih luas. Transformasi digital terhadap sastra rakyat seperti Legenda Danau Toba merupakan proses yang kompleks, yang memerlukan kehati-hatian agar nilai-nilai budaya tidak tereduksi oleh tuntutan media modern. Oleh karena itu, diperlukan strategi adaptasi yang sensitif terhadap konteks budaya untuk memastikan bahwa media digital berfungsi sebagai wahana pelestarian, bukan pengaburan, budaya lokal.
References
Aripradono, H. W. (2020). Penerapan komunikasi digital storytelling pada media sosial Instagram. Teknika, 9(2), 121. https://doi.org/10.34148/teknika.v9i2.298
Fajri, N. (2020). Kearifan lokal masyarakat Suku Sasak Lombok dalam memanfaatkan tumbuhan berpotensi obat di wilayah Kabupaten Lombok Timur sebagai sumber belajar etnobotani. Deleted Journal, 5(1), 6.
Gultom, E. A., et al. (2024). Analisis drama “Legenda Danau Toba” karya Tira Ikranegara dengan menggunakan pendekatan ekofeminisme.
Gultom, P., et al. (2020). The cultural values of Batak Toba in Batu Gantung local tradition in Samosir Island. Linguistica, 9(1), 227. https://doi.org/10.24114/jalu.v9i1.17762
Gushevinalti, G., et al. (2020). Transformasi karakteristik komunikasi di era konvergensi media. Bricolage: Jurnal Magister Ilmu Komunikasi, 6(1), 83. https://doi.org/10.30813/bricolage.v6i01.2069
Hasan, Z., et al. (2024). Pengaruh globalisasi terhadap eksistensi identitas budaya lokal dan Pancasila. Deleted Journal, 1(2), 333. https://doi.org/10.57235/jalakotek.v1i2.2385
Lanur, V. S. C., & Martini, E. (2015). Pengembangan desa wisata Wae Rebo berdasarkan kearifan lokal. Jurnal PLANESA, 6(2).
Latipah, M., et al. (2017). Folktales as a means of ecological education for society in Bejiharjo Village, Gunungkidul, Yogyakarta. Pancaran Pendidikan, 6(2). https://doi.org/10.25037/pancaran.v6i2.77
Li, H., & Jung, S. (2018). Networked audiences and cultural globalization. Sociology Compass, 12(4). https://doi.org/10.1111/soc4.12570
Liu, X. (2020). An analysis of the literary creation of the father’s image in Chinese literature. In Proceedings of the International Conference on Modern Educational Technology and Innovation and Entrepreneurship (ICMETIE 2020). https://doi.org/10.2991/assehr.k.200306.091
MK, M., et al. (2020). Peran pemerintah dalam pelestarian nilai-nilai kearifan lokal di Desa Lombong, Kecamatan Malunda. Journal Peqguruang Conference Series, 2(2), 56. https://doi.org/10.35329/jp.v2i2.1524
Mulyawan, R. (2021). Konsep tubuh manusia: Dari sudut pandang philos dan shopia. Majora: Majalah Ilmiah Olahraga, 27(2), 52. https://doi.org/10.21831/majora.v27i2.42061
Mona, E. N. F., & Gasa, F. M. (2020). Literasi media: Sosial media sebagai “front stage” baru personal image generasi digital native. Jurnal Simbolika: Research and Learning in Communication Study, 6(2), 107. https://doi.org/10.31289/simbollika.v6i2.3650
Nasrullah, R. (2016). Aplikasi Islam dalam meme “mengajak nikah ke KUA.” El Harakah: Jurnal Budaya Islam, 18(2), 109. https://doi.org/10.18860/el.v18i2.3650
Nurcahyati, U. N., et al. (2024). Peran media sosial dalam mempromosikan budaya lokal. Proceeding of International Conference on Cultures & Languages, 2(1), 350. https://doi.org/10.22515/iccl.v2i1.9607
Permadi, A. (2020). Peranan generasi milenial dalam melestarikan budaya melalui informasi digital. SSRN. https://doi.org/10.2139/ssrn.3621870
Putri, R. D., et al. (2024). Identitas budaya dalam era digital. El-Mujtama: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 4(4), 2000. https://doi.org/10.47467/elmujtama.v4i4.3380
Rahayuningsih, Y. S., & Muhtar, T. (2022). Pedagogik digital sebagai upaya untuk meningkatkan kompetensi guru abad 21. Jurnal Basicedu, 6(4), 6960. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i4.3433
Rochmiyati, S., et al. (2020). The gist of digital technology for local culture preservation: Intriguing fairy tales. People: International Journal of Social Sciences, 6(1), 422. https://doi.org/10.20319/pijss.2020.61.422433
Setyowati, N., et al. (2020). Nature and social attitude in folklore entitled Timun Mas: Eco-critical study. Journal of Applied Studies in Language, 4(1), 38. https://doi.org/10.31940/jasl.v4i1.1649
Simanjuntak, N. M. (2018). Etnographie-semiotic of Sigale-Galers legend in Samosir Lake, North Sumatera, Indonesia. In Proceedings of the International Conference of Communication Science Research (ICCSR 2018). https://doi.org/10.2991/iccsr-18.2018.100
Sugiyanto, F. K. Y. A. (2021). The dynamics transformation of living media consumption in the digital era. Medialog: Jurnal Ilmu Komunikasi, 4(1), 201. https://doi.org/10.35326/medialog.v4i1.1032
Sulistyanto, A., et al. (2022). Memorable cultural tourism experience: Blogger narrative analysis. Jurnal Pariwisata Pesona, 7(1), 104. https://doi.org/10.26905/jpp.v7i1.6387
Talib, D., & Sunarti, S. (2021). Strategi pelestarian budaya lokal sebagai upaya pengembangan pariwisata budaya (sebuah analisis teoritis). Tulisan Ilmiah Pariwisata (TULIP), 4(1), 6. https://doi.org/10.31314/tulip.4.1.6-12.2021
Waluya, B., et al. (2021). Kajian nilai-nilai saba budaya baduy sebagai modal sosial untuk menjaga lingkungan dari ancaman kerusakan akibat pariwisata. Sosietas, 11(2), 191. https://doi.org/10.17509/sosietas.v11i2.41617















