PERAN PEMERINTAH DAERAH DALAM MENCEGAH KERUSAKAN LINGKUNGAN AKIBAT PEMBABATAN HUTAN SECARA LIAR DI KABUPATEN DOMPU (STUDI PADA BALAI KESATUAN PENGELOLAN HUTAN TOFFO PAJO SOROMANDI)
DOI:
https://doi.org/10.51878/cendekia.v5i3.6151Keywords:
Pemerintah daerah, pembabatan liar, implementasi kebijakan, perlindungan hutanAbstract
This study aims to analyze the role of local governments in preventing environmental damage due to illegal logging in Dompu Regency, with a focus on policy implementation through the Toffo Pajo Soromandi Forest Management Unit (BKPH). Using a descriptive qualitative approach and the Van Meter and Van Horn policy implementation model, this study evaluates six main variables: policy standards and objectives, resources, inter-organizational communication, implementer characteristics, implementer attitudes, and social, economic, and political environmental conditions. The results show that local governments have implemented various preventive and repressive strategies, such as forest patrols, counseling, area rehabilitation, and the formation of Forest Police Partners. However, limited human resources and logistics, low public awareness, and geographical challenges are the main obstacles in policy implementation. Even so, cross-sector synergy and participatory approaches show great potential in strengthening forest protection. Therefore, strengthening the aspects of resources, institutional collaboration, and community economic empowerment is needed to realize sustainable forest management at the regional level.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pemerintah daerah dalam mencegah kerusakan lingkungan akibat pembabatan hutan secara liar di Kabupaten Dompu, dengan fokus pada implementasi kebijakan melalui Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan (BKPH) Toffo Pajo Soromandi. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan model implementasi kebijakan Van Meter dan Van Horn, penelitian ini mengevaluasi enam variabel utama: standar dan tujuan kebijakan, sumber daya, komunikasi antar organisasi, karakteristik pelaksana, sikap pelaksana, serta kondisi lingkungan sosial, ekonomi, dan politik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerintah daerah telah menjalankan berbagai strategi preventif dan represif, seperti patroli hutan, penyuluhan, rehabilitasi kawasan, dan pembentukan Mitra Polisi Kehutanan. Namun, keterbatasan sumber daya manusia dan logistik, rendahnya kesadaran masyarakat, serta tantangan geografis menjadi kendala utama dalam pelaksanaan kebijakan. Meski begitu, sinergi lintas sektor dan pendekatan partisipatif menunjukkan potensi besar dalam memperkuat perlindungan hutan. Oleh karena itu, diperlukan penguatan pada aspek sumber daya, kolaborasi kelembagaan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat untuk mewujudkan pengelolaan hutan yang berkelanjutan di tingkat daerah.
References
Ardiyanto, S. Y., et al. (2022). Law enforcement and community participation in combating illegal logging and deforestation in Indonesia. Environment and Ecology Research, 10(4), 450. https://doi.org/10.13189/eer.2022.100403
Aziz, S., et al. (2024). Illegal logging and its impact on forest ecosystems in Southeast Asia. Forestry Studies, 1(August), 177–186.
Bayau, E., et al. (2019). Potret kehidupan Suku Togutil dan kearifan lokal khususnya obat-obatan tradisional dari hutan. MAKILA, 13(1), 67. https://doi.org/10.30598/makila.v13i1.2322
Cruz, A. L. D., et al. (2021). Comparative analysis on the photographic self-presentations of the top Philippine universities in their official websites. Plaridel, 18(2). https://doi.org/10.52518/2021-13dcgmrd
Dzulqarnain, G. Z., et al. (2022). Implementasi program Sustainable Development Goals (SDGs) dalam upaya penanggulangan kemiskinan di Kota Sukabumi. Professional: Jurnal Komunikasi & Administrasi Publik, 9(1), 109–116.
Fitriandhini, D., & Putra, A. (2022). Dampak kerusakan ekosistem hutan oleh aktivitas manusia: Tinjauan terhadap keseimbangan lingkungan dan keanekaragaman hayati. Jurnal Syntax Admiration, 3(2), 217–226.
Forwanti, E., & Setiawan, F. (2022). Implementasi kebijakan penanganan gelandangan dan pengemis oleh Dinas Sosial Kota Palangka Raya (Perda Kota Palangka Raya No. 9 Tahun 2012). Jurnal Administrasi Publik (JAP), 8(2), 88–101.
Haq, A. S., et al. (2023). Implementasi kebijakan penyelesaian konflik agraria pengadaan tanah untuk pembangunan Ibu Kota Negara Nusantara. CosmoGov: Jurnal Ilmu Pemerintahan, 9(2), 175-191.
Hirsan, F. P., et al. (2021). Analisis hubungan perubahan penggunaan lahan untuk komoditas jagung dan degradasi lingkungan di Kabupaten Dompu. Plano Earth, 42–47.
Hussain, S., & Fahmy, S. (2024). Social media and conflict: A visual analysis of war and peace frames in Pakistan. SAGE Open, 14(4). https://doi.org/10.1177/21582440241291627
Kurniawan, B. (2020). Evaluasi program konservasi cagar budaya melalui mekanisme pemberian subsidi di kawasan Kota Lama Sawahlunto. Jurnal Konservasi Cagar Budaya, 14(1), 38. https://doi.org/10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v14i1.200
Mashovich, A., et al. (2019). Ensuring fire safety of constructions in remote and sparsely populated areas. IOP Conference Series: Materials Science and Engineering, 667(1), 12061. https://doi.org/10.1088/1757-899x/667/1/012061
Mina, R. (2016). Desentralisasi perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sebagai alternatif menyelesaikan permasalahan lingkungan hidup. Arena Hukum, 9(2), 149–165. https://doi.org/10.21776/Ub.Arenahukum.2016.00902.1
Muhammad Amir, et al. (2022). Strategi pemerintah dalam mencegah illegal logging di Kabupaten Muna Barat Provinsi Sulawesi Tenggara. Journal Publicuho, 5(3), 912–928. https://doi.org/10.35817/Publicuho.V5i3.40
Nuhdin, W. (2024). Implementasi kebijakan standar nasional rehabilitasi sosial di Kota Baubau. Jurnal Public Policy, 10(1), 77-85.
Oktavia Prasetyaningtyas, & Trimurtini, T. (2024). Peran konservasi sumber daya alam hutan terhadap tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Conserva, 2(1), 13–21. https://doi.org/10.35438/Conserva.V2i1.203
Parhusip, S. B., et al. (2020). Community involvement in forest resource utilization: Case study of rural communities in Japan and Indonesia. FORMATH, 19. https://doi.org/10.15684/formath.19.002
Ruhansih, D. S. (2018). Efektivitas strategi bimbingan teistik untuk pengembangan religiusitas remaja. Quanta: Jurnal Kajian Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan, 1(1), 1–10. https://doi.org/10.22460/Q.V1i1p1-10.497
Sahupala, M. I. (2020). Implementasi kebijakan pengelolaan sampah di Dinas Lingkungan Hidup Kota Tasikmalaya. Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia, 5(4), 152. https://doi.org/10.36418/Syntax-Literate.V5i4.1079
Santoso, P., & Ningtias, I. S. (2022). Implementasi kebijakan anggaran infrastruktur jalan di Kabupaten Bandung Barat. Jekp (Jurnal Ekonomi dan Keuangan Publik), 9(2), 79–95.
Supratman, S., et al. (2019). Institutional synergy model of Awota Forest Management Unit in South Sulawesi Province. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 270(1), 12050. https://doi.org/10.1088/1755-1315/270/1/012050
Tamboto, B. W. H., et al. (2023). Implementasi kebijakan pemilihan hukum tua di Kabupaten Minahasa Selatan tahun 2022. Jurnal Governance, 3(2), 1–2.















