EDUCATION, ETHNICITY, AND WELFARE KEY FACTORS AFFECTING FIRST AGE MARRIAGE
DOI:
https://doi.org/10.51878/cendekia.v5i3.6018Keywords:
First Marriage Age, Education, Ethnicity, WelfareAbstract
Salah satu target kinerja utama BKKBN pada tahun 2019 adalah median usia perkawinan pertama (MUKP) sebesar 21 tahun. Data Survei Kinerja dan Akuntabilitas Program (SKAP) BKKBN tahun 2019 menunjukkan MUKP sebesar 19,2 tahun. Data BPS menunjukkan bahwa Provinsi Nusa Tenggara Barat mencatat usia perkawinan pertama pada tahun 2019 sebesar 20,21 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana beberapa faktor mempengaruhi usia perkawinan pertama di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Faktor-faktor yang diteliti adalah suku bangsa, status daerah, tingkat kesejahteraan, pendidikan, dan pekerjaan. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder hasil SKAP tahun 2019 yang berjumlah 1292 responden sebagai sampel. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan analisis regresi logistik biner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Variabel yang berpengaruh signifikan terhadap usia perkawinan pertama adalah suku bangsa, pendidikan, dan status kesejahteraan; dan 2) Keberagaman status daerah yang terbagi menjadi perkotaan dan pedesaan, serta lapangan pekerjaan, tidak mampu menjelaskan keberagaman usia perkawinan pertama. Pencapaian target MUKP 21 tahun memerlukan koordinasi dan kerja sama yang berkelanjutan antar berbagai pihak, seperti optimalisasi peran tokoh agama dan tokoh masyarakat, komunikasi dan koordinasi antar pemangku kepentingan, dari tingkat desa hingga provinsi, yang dilakukan secara sistematis dan terencana, dan terakhir, peningkatan pemahaman dan penerapan 8 fungsi keluarga dapat ditingkatkan melalui pendidikan keluarga yang dilakukan secara terprogram.
ABSTRACT
One of the main performance targets of the BKKBN in 2019 is the median age of first marriage (MUKP) of 21 years. Data from the 2019 BKKBN Program Performance and Accountability Survey (SKAP) shows the MUKP is 19.2 years. BPS data shows that West Nusa Tenggara Province recorded the age of first marriage in 2019 at 20.21 years. This study aimed at revealing how some factors effect the age of first marriage in West Nusa Tenggara Province. The factors studied are ethnicity, regional status, level of welfare, education, and employment. The research was carried out using a quantitative approach with secondary data from the 2019 SKAP results, totaling 1292 respondents as samples. The data analyzed using descriptive statistics and binary logistic regression analysis. The results shows that 1) Variables that have a significant effect on the age at first marriage are ethnicity, education, and welfare status; and 2) The diversity of regional status, which is divided into urban and rural areas, and employment are unable to explain the diversity at the age of first marriage. Achieving the 21-year MUKP target requires sustained coordination and cooperation among various parties, such as through optimizing the role of religious and community leaders, communication and coordination among stakeholders, from the village to the provincial level, which is carried out in a systematic and planned manner, and lastly, increasing understanding and application of the 8 family functions can be improved through family education which is carried out in a programmed manner.
References
Adi P., W. P., & Budiati, I. (Eds.). (2021). Indikator kesejahteraan rakyat 2021. Badan Pusat Statistik.
Badan Pusat Statistik Provinsi NTB. (n.d.). Beranda. Diakses 22 Desember 2022, dari https://ntb.bps.go.id/
Desiyanti, I. W. (2015). Faktor-faktor yang berhubungan terhadap pernikahan dini pada pasangan usia subur di Kecamatan Mapanget Kota Manado. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat (JIKMU), 5(3), 270–280.
Febriyanti, N. P., & Dewi, M. H. U. (2017). Pengaruh faktor sosial ekonomi dan demografi terhadap keputusan perempuan menikah muda di Indonesia. Jurnal Piramida, 13(2), 108–117.
Handayani, S., et al. (2021). Faktor-faktor penyebab pernikahan dini di beberapa etnis Indonesia. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, 24(4), 265–274. https://doi.org/10.22435/hsr.v24i4.4619
Ilham, P. S. (2021). Analisis usia kawin pertama di Kabupaten Sekadau tahun 2020. Jurnal Formasi, 1(1), 17–26. https://doi.org/10.57059/formasi.v1i1
Imron, A., et al. (2020). Determinant age at first marriage among women in East Jawa. Jurnal Biomedika dan Kependudukan, 9(2), 104–111. https://doi.org/10.20473/jbk.v9i2.2020.104-111
Kurniawati, L., et al. (2016). Hubungan antara tingkat pendidikan, status pekerjaan dan tingkat pendapatan dengan usia perkawinan pertama wanita di Kelurahan Kotalama Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Jurnal Preventia, 1(2), 210–219.
Medika, L. (2019). Pengaruh faktor sosial ekonomi terhadap usia kawin pertama wanita di Kota Padang [Skripsi, Universitas Andalas]. http://scholar.unand.ac.id/id/eprint/40883
Prihyugiarto, T. Y., et al. (Eds.). (2019). Puslitbang KB dan KS Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional.
Putra, I. P. G. M., & Dewi, M. H. U. (2021). Pengaruh sosial ekonomi terhadap usia perkawinan pertama perempuan di Kecamatan Denpasar Selatan. Jurnal Ekonomi Pembangunan, 10(5), 1860–1889.
Putri, N. D. (2022). Faktor sosial ekonomi dalam perkawinan anak di Sulawesi Selatan. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 11(3), 562–571. https://doi.org/10.23887/jish.v11i3.47789
Rachman, A. (2022, 10 Juni). 7 perbedaan kota dan desa. Kompas.com. Diakses 24 Desember 2022, dari https://www.kompas.com/skola/read/2022/06/10/110000369/7-perbedaan-kota-dan-desa
Risya, D. P. (2011). Usia perkawinan pertama wanita berdasarkan struktur wilayah Kabupaten Bogor [Skripsi, Universitas Indonesia]. https://lib.ui.ac.id
Rohmah, N. (2013). Faktor-faktor yang mempengaruhi usia perkawinan pertama wanita di Kecamatan Sidayu Kabupaten Gresik. Jurnal Pendidikan Geografi Swara Bhumi, 2(1), 98–107.
Rosyidah, I., & Fajriyah, I. M. D. (2013). Menebar upaya, mengakhiri kelanggengan: Problematika perkawinan anak di Nusa Tenggara Barat. Harmoni: Jurnal Multikultural & Multireligius, 12(2), 59–71.
Sahara, D. P., et al. (2018). Stress heterogeneity and its impact on seismicity pattern along the equatorial bifurcation zone of the Great Sumatran Fault, Indonesia. Journal of Asian Earth Sciences, 164, 1-8.
Saptandari, P. (2020, 29 Desember). Pernikahan anak meningkat: Belenggu tradisi dan patriarki bagi kaum perempuan. UNAIR NEWS. Diakses 27 Desember 2022, dari https://news.unair.ac.id/2020/12/29/pernikahan-anak-meningkat-belenggu-tradisi-dan-patriarki-bagi-kaum-perempuan/
Saputri, W. A. K., & Suryowati, K. (2018). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi Gini Ratio di Provinsi Papua dengan model spasial data panel. Jurnal Statistika Industri dan Komputasi, 3(2), 1–11. https://doi.org/10.34151/statistika.v3i02.1060
Sriudiyani, & Soebijanto. (2011). Perkawinan muda di kalangan perempuan (Policy Brief, Seri I No.6/Pusdu-BKKBN/Desember 2011). BKKBN.
Sudibia, I. K., et al. (2015). Faktor-faktor yang mempengaruhi menurunnya usia kawin pertama di Provinsi Bali. Jurnal Piramida, 11(2), 43–58.
Sumiyati, I., et al. (2021). Hubungan tingkat pendidikan dan pekerjaan terhadap pernikahan usia dini pada remaja putri di Desa Mekar Jaya Kabupaten Tangerang tahun 2020. Jurnal Obstretika Scientia, 9(2), 741–760. https://doi.org/10.55171/obs.v9i2.585
Supriyatin, R., et al. (2020). Pemetaan karakteristik wilayah urban dan rural di wilayah Bandung Raya dengan metode spatial clustering. Jurnal Geografi, 12(2), 125–136. https://doi.org/10.24114/jg.v12i02.17647
Utina, R., et al. (2014). Kajian faktor sosial ekonomi yang berdampak pada usia perkawinan pertama di Provinsi Gorontalo.
Yuhelson, et al. (2020). Perlindungan sosial bagi perempuan korban pernikahan dini di Gorontalo. Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan, 4(1), 257–282. https://doi.org/10.14421/jpm.2020.041-10















